Belakangan ini istilah ‘food noise’ Lebih sering muncul, terutama Sebelum meningkatnya penggunaan Terapi penurun berat badan golongan GLP-1 seperti Ozempic. Akan Tetapi apa sebenarnya food noise?
GLP-1 atau ‘Glucagon-Like Peptide-1’ merupakan Terapi resep yang bekerja meniru hormon alami tubuh Untuk membantu mengatur kadar gula darah sekaligus mengendalikan nafsu makan.
Banyak User Terapi ini mengaku pikiran mereka tentang Hidangan menjadi lebih Tenteram Setelahnya mengonsumsi Terapi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan Tetapi, sebenarnya apa yang dimaksud Didalam ‘food noise’? Meski belum menjadi diagnosis medis secara resmi, para ahli Kesejaganan menyebut Kepuasan ini cukup umum terjadi, khususnya Di orang yang Untuk Melakukanlangkah-Langkah menurunkan berat badan atau mengatur pola makan sehari-hari.
Dilansir Didalam Men’s Health (23/06/2026), berikut penjelasan seputar food noise yang kerap muncul Di Asupan Hidangan.
1. Apa Itu Food Noise?
|
Ngidam Hidangan Berlebihan Di Asupan Hidangan Foto: Ilustrasi iStock
|
Ahli gizi Sandra Zhang menjelaskan bahwa istilah ini digunakan Untuk menggambarkan pikiran yang terus-menerus muncul mengenai Hidangan, keinginan makan, atau kapan waktu makan berikutnya.
“Food noise adalah pikiran yang menetap dan mengganggu tentang Hidangan, Malahan ketika seseorang sebenarnya tidak Untuk lapar secara fisik,” ujarnya.
Seseorang yang Merasakan ‘food noise’ bisa terus memikirkan camilan Di kantor, menu makan malam Setelahnya Mutakhir selesai makan siang, atau merasa bersalah Setelahnya makan Supaya sulit berkonsentrasi Di Karya lain.
2. Bentuk Food Noise
Bentuk food noise. Foto: Ilustrasi iStock |
Menurut para ahli, ‘food noise’ sering muncul sebagai dialog Di Untuk hati atau pikiran tentang Hidangan yang berulang dan sulit dihentikan.
Misalnya, seseorang terus bertanya Di dirinya sendiri, “Apa yang harus saya makan nanti?”, “Apakah saya sudah makan cukup?”, atau “Saya tidak boleh makan itu, tetapi saya sangat ingin mencobanya.”
Pikiran semacam ini dapat muncul sepanjang hari meski tubuh tidak benar-benar membutuhkan Hidangan. Ahli Kesejaganan Kelly Allison Didalam Penn Medicine, mengatakan tekanan dan frekuensi pikiran tentang Hidangan dapat mengganggu fokus seseorang Di bekerja atau berbicara Didalam orang lain Lantaran perhatian terus kembali Di Hidangan.
3. Sering Dialami Orang yang Untuk Asupan Hidangan
Food noise. Foto: Getty Images/fcafotodigital |
Hingga kini belum ada data pasti mengenai jumlah orang yang Merasakan ‘food noise’ Lantaran istilah tersebut belum diakui sebagai diagnosis medis resmi.
Akan Tetapi, beberapa laporan Menunjukkan Kepuasan ini cukup umum, terutama Di individu Didalam kelebihan berat badan atau obesitas yang Untuk menjalani Langkah penurunan berat badan atau Asupan Hidangan.
Salah satu laporan menyebut Di 57% orang Untuk kelompok tersebut Merasakan ‘food noise’. Menurut para ahli, Kepuasan ini juga dapat dialami baik Didalam pria maupun wanita. Food noise juga bukan berarti seseorang Memperoleh kontrol diri yang lemah Untuk mengendalikan pola makan.
4. Tanda-tanda Food Noise
Tanda-tanda Food Noise. Foto: Getty Images/Milko |
Sandra Zhang menyebut seseorang Mungkin Saja Merasakan ‘food noise’ jika terus-menerus memikirkan Hidangan, sulit mengalihkan perhatian Didalam keinginan makan, atau tetap makan meski sudah kenyang.
Samping Itu, rasa cemas Pada Hidangan dan kebiasaan terus menghitung, membatasi, atau menebus asupan makan Didalam Asupan Hidangan ketat maupun Latihan berlebihan juga dapat menjadi tanda ‘food noise’.
Penjelasan ilmiahnya cukup sederhana, yakni otak terus memberi perhatian berlebih Di Hidangan Supaya pikiran tersebut mendominasi Karya sehari-hari dan memengaruhi pengambilan keputusan Yang Berhubungan Didalam makan.
5. Terapi GLP-1 Disebut Bisa Meredakan Food Noise
GLP-1. Foto: Getty Images/zimmytws |
Para ahli Kesejaganan menjelaskan bahwa otak Memperoleh reseptor GLP-1 yang berperan Untuk mengatur perilaku makan. Terapi golongan GLP-1, termasuk semaglutide yang dikenal Lewat merek Ozempic, bekerja Didalam meniru hormon alami tubuh Supaya sinyal kenyang dan pengendalian nafsu makan menjadi lebih kuat.
Ahli Kesejaganan Kelly Allison mengatakan banyak pasien merasa lebih mudah menikmati satu kali makan tanpa terus memikirkan Hidangan Setelahnya menggunakan Terapi golongan GLP-1.
Selain membantu Mengurangi nafsu makan, Terapi ini juga memengaruhi sistem Pengakuan Di otak Supaya rasa ingin mengonsumsi Hidangan tertentu atau ngidam dapat berkurang dan ‘food noise’ menjadi lebih Tenteram. Tentunya penggunaan Terapi golongan GLP-1 ini tak boleh sembarangan, harus Di bawah pengawasan Praktisi Medis.
Halaman 2 Didalam 2
(sob/adr)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: 5 Fakta Food Noise, Kepuasan yang Membuat Pikiran Terus Tertuju Di Hidangan















