Ke balik rimbunnya pepohonan Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, tersimpan sebuah telaga bening Ke kaki Gunung Wayang. Namanya Situ Cisanti.
Hamparan air seluas lima hektare ini bukan sekadar pemandangan indah Ke Desa Tarumajaya. Untuk Kelompok Jawa Barat, Situ Cisanti adalah nafas kehidupan.
Ke sinilah titik nol Sungai Citarum bermula, mengalirkan air sejauh hampir 300 kilometer melintasi berbagai kota hingga bermuara Ke Muara Gembong, Bekasi, dan berakhir Ke Laut Jawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Pada ini sungai Citarum kerap identik Bersama potret pencemaran Ke Area hilir, pemandangan Ke hulunya justru berbanding terbalik. Airnya begitu bening, memantulkan ketenangan hutan yang masih asri.
Juru Kunci Situ Cisanti, Atep Permana (54), mengisahkan bahwa area ini dulunya merupakan hamparan rawa alami Ke bawah kaki Gunung Wayang. Transformasi menjadi danau buatan Mutakhir dilakukan Bersama pemerintah Ke awal milenium kedua.
“Karena Itu ini dulunya adalah danau buatan. Nah Ke mulai tahun 2001 hingga 2002 dibangun lah dan diberi nama Situ Cisanti sampai sekarang,” ujar Atep Di ditemui beberapa waktu lalu.
Meski bendungannya tergolong Mutakhir, sumber mata air Ke lokasi ini sudah melegenda Dari zaman nenek moyang. Jauh Sebelumnya nama Situ Cisanti disematkan, mata air ini telah dijaga secara turun-temurun Bersama keluarga Atep.
“Karena Itu dulu Area ini dijaga sama orang tua. Terus pas pembangunan, orang-orang dinas mau namain titik apa, titik apanya berdasarkan konsultasi Bersama orang tua saya,” katanya.
Ke kawasan ini, terdapat tujuh sumber mata air utama yang menjadi tumpuan hidup Kelompok, yakni Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cikawudukan, dan Cisanti.
“Ini Untuk tujuh sumber mata air tertampunglah Ke Situ Cisanti. Kalau dulu mah langsung Untuk Kaki Gunung Wayang. Kalau sekarang mah Untuk Kaki Gunung Wayang tertampung Ke Situ Cisanti, lalu Untuk tujuh mata air, lalu Hingga Sungai Citarum,” jelas Atep.
Ia menegaskan bahwa Untuk titik inilah perjalanan panjang Sungai Citarum dimulai. “Ini titik nolnya sungai Citarum. Karena Itu, awal mula Citarum itu Untuk sini yang panjang sampai Bekasi,” ucapnya.
|
Situ Cisanti Bandung Foto: Yuga Hassani/detikJabar
|
Untuk wisatawan yang berkunjung, mata air Citarum dan Cikahuripan menjadi magnet utama. Keduanya terletak berdampingan Ke area terdalam Situ Cisanti, tersembunyi Ke balik rimbunnya pepohonan.
“Karena Itu kalau masuk, yang kanan itu Citarum, kalau yang kirinya itu Cikahuripan. Karena Itu dua mata air ya itu yang tersekat sama pohon yang kalau kita masuk Untuk sini Untuk pintu,” ungkap Atep.
Sambil Itu, beberapa mata air lainnya tersebar Ke pinggiran danau. Justru, mata air Cisanti sendiri berada Di dua kilometer Ke luar gerbang utama, meski alirannya tetap bermuara Hingga situ tersebut.
Untuk Kelompok setempat, ketujuh mata air ini bukan sekadar sumber air, melainkan simbol filosofi kehidupan. Mata air Citarum, misalnya, dimaknai sebagai pengingat agar manusia saling mendoakan jika ingin hidupnya ‘harum’. Sambil Itu Cikahuripan melambangkan air Untuk keberlangsungan hidup.
“Karena Itu Cikahuripan itu adalah kehidupan, maka hirupna jeung huripna. Nah, itu Cikahuripan. Terus Cikoleberes, maka kita harus beres, Mungkin Saja urusan hati, sehari-hari atau urusan kita ya yang baik ya pokoknya harus beres, gitu,” kata Atep.
Filosofi mendalam juga tersirat Untuk Cihaniwung dan Cisadane yang membawa pesan agar manusia tidak melulu mengejar urusan duniawi dan melupakan bekal akhirat. Sedangkan Cikawudukan, mata air keenam, menjadi pengingat Untuk menjauhi sifat keras hati.
“Terus mata air Cikawudukan itu mata air yang keenam. Nah, itu tapi kita jangan nyimpen kalau weduk itu keras hati. Dendam, iri, dengki itu jangan, enggak boleh. Maka itu kita harus kalau misalkan laki-laki harus saleh, kalau perempuan harus salehah. Nah, gitu, jangan menyimpan hati yang keras hati lah,” tuturnya.
Atep menjelaskan bahwa memahami dan mengamalkan makna Untuk keenam mata air tersebut Akansegera membawa seseorang Ke ‘Cisanti’ yang sesungguhnya yakni ketenangan yang disimpan Untuk hati sanubari.
“Maka yang Untuk 1 sampai 6 itu dibaca dan diartikan dan dilaksanakan, maka ketemulah Bersama si Cisanti. Disimpan Untuk hati sanubari. Karena Itu kita kan baca nih, arti yang sudah tadi dijelaskan berarti harus dibaca dan dilaksanakan, maka disimpan hati sanubari,” lanjutnya.
Memegang Teguh Amanat Kebiasaan
Sebagai penjaga Kebiasaan, Atep memegang teguh amanat keluarganya Untuk terus merawat kawasan ini. Berkat penjagaan yang ketat Di kearifan lokal, air Ke Situ Cisanti tetap murni dan layak konsumsi.
“Maka alhamdulillah sampai sekarang mata air ini bisa diminum. Nah sampai sekarang itu alhamdulillah kita bisa menikmati dan bisa langsung minum, aman Untuk diminum,” kata Atep.
Selain nilai ekologis dan filosofis, Situ Cisanti juga menyimpan jejak sejarah sebagai petilasan Prabu Siliwangi dan Dipatiukur. Ke dasar salah satu mata air, terdapat sebuah batu yang diyakini Kelompok sebagai jejak kaki kiri sang raja Pajajaran.
“Mungkin Saja kembali lagi Hingga keyakinan masing-masing ya, ada yang apa kita menjaga kearifan lokal Ke sini dan tata krama Ke sini artinya Untuk meneruskan amanatnya itu, jangan dilebihi jangan dikurangi,” kata Atep.
Hingga kini, Situ Cisanti tetap menjadi tempat Untuk mereka yang ingin mencari ketenangan atau sekadar mengucap syukur. Terutama Ke bulan Maulud, kawasan ini ramai dikunjungi warga yang datang Bersama niat tulus menghargai alam.
“Kita bersyukur kepada yang Maha Kuasa, kita juga harus punya peran atau harus benar-benar menjaga ini alam yang dikasih sama Allah Subhanahu wa taala. Nah, Mungkin Saja ajaran Untuk orang tua dan leluhur dulu seperti itu,” pungkasnya.
——–
Artikel ini telah naik Ke detikJabar.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kisah Situ Cisanti, Titik 0 Kilometer Citarum Bersama Tujuh Mata Air











