Jakarta –
Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Prof. Budi Wiwieko mengingatkan Komunitas, khususnya perempuan, Berencana bahaya paparan zat Bisfenol A (BPA) Ke kemasan Minuman dan minuman Di Kesejaganan reproduksi. Meski Badan Pengawas Terapi dan Minuman (BPOM) membatasi kadar BPA sebesar 0,6 ppm, zat kimia ini tetap berisiko terakumulasi Ke Di tubuh.
Prof. Budi menjelaskan akumulasi BPA Di kadar tertentu dapat memicu gangguan hormon dan mengganggu proses reproduksi.
“Nah, kalau terakumulasi Di kadar tertentu, Berencana terjadilah gangguan kerja. Misalkan ya, hormon yang dikeluarkan Didalam otak Bagi memerintahkan indung telur memproduksi sel telur, Supaya Berencana terjadi gangguan pematangan sel telur,” ujar Budi kepada detikcom, Jumat (9/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Batas Regulasi BPOM dan Risiko Akumulasi Di Tubuh
Mengenai regulasi yang berlaku, BPOM telah menetapkan batas aman Bagi kandungan BPA. Akan Tetapi, tingkat paparan harian tetap perlu diwaspadai Didalam Komunitas.
“Badan POM Di regulasi menyampaikan batas maksimal kadar Bisfenol itu 0,6 ppm (parts per million). Tetapi seperti yang kita ketahui, walaupun dia Di kadar yang sangat kecil, kalau terekspos berulang kali Berencana terjadi akumulasi,” jelas Budi.
Ancaman Endocrine Disrupting Chemical Bagi Perempuan
Prof. Budi menekankan pentingnya kesadaran Komunitas, terutama kalangan wanita, Di bahaya Endocrine Disrupting Chemical (EDC) atau bahan kimia pengganggu hormon yang sering dijumpai Ke kemasan sehari-hari.
“Mengapa Komunitas, terutama perempuan, harus sadar betul bahwa paparan (exposure) Di Endocrine Disrupting Chemical atau Bisfenol ini Berencana sangat membahayakan Bagi Kesejaganan reproduksinya. Dan itu salah satu sumber paparan yang paling erat Di kehidupan sehari-hari adalah kemasan minuman maupun kemasan Minuman,” tuturnya.
Risiko Pencucian dan Sinar Matahari Ke Galon Guna Ulang
Selain Di wadah Minuman, Prof. Budi menyoroti risiko pelepasan BPA Di kemasan guna ulang, seperti galon isi ulang yang melewati proses pencucian serta terpapar paparan luar.
“Dan kita tahu juga risiko-risiko bila menggunakan kemasan yang digunakan berulang, salah satu contoh, galon isi (guna) ulang. Salah satu risikonya, Didalam dia dicuci, pencucian berulang kali, exposure Didalam sinar matahari, itu juga justru Berencana Meningkatkan kandungan BPA Ke Di air yang berada Ke Di kemasan tersebut,” tegasnya.
(akn/ega)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Praktisi Medis Wanti-wanti Bahaya Akumulasi BPA Bagi Kesejaganan Reproduksi Wanita











