Seorang wanita berusia 31 tahun asal China meninggal dunia Di Seattle, AS Di Februari lalu akibat komplikasi epilepsi Sesudah mengubah dosis obatnya. Sebelumnya dia meminta saran kepada ChatGPT.
Dikutip Di laman NYPost, wanita bernama Bowen Wan tiba-tiba berhenti bicara ketika menelepon ayahnya, Qu Wan. Perempuan tersebut tampaknya Merasakan kejang, Situasi yang telah dialaminya Pada bertahun-tahun. Akan Tetapi, menurut pengamatan sang ayah, kejang kali ini berlangsung lebih lama Di biasanya. Sesudah tersadar, ia mengatakan Berencana menceritakan kondisinya Lebih Jelas Sesudah beristirahat.
Beberapa hari Sesudah Itu, ia tidak lagi merespons panggilan telepon. Orang tuanya yang tinggal Di China Sesudah Itu mengatur agar seseorang memeriksa keadaannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Qun Wan dan istrinya Merasakan Melewati panggilan video Di seorang teman menemukan putri mereka, seorang insinyur Gadget lunak, telah meninggal dunia Di apartemennya Di Seattle, AS.
Kedua orang tuanya tidak dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Penyebab resmi kematian Wan Di Februari disebut sebagai komplikasi epilepsi, Situasi yang telah berhasil ia kendalikan Pada lebih Di 10 tahun.
Qun Wan mengatakan bahwa ia Sesudah Itu mengetahui bahwa Sebelumnya meninggal dunia, putrinya berkonsultasi Di ChatGPT. Bowen meminta saran tentang cara menghindari pengawasan ketat Ahli Kepuasan dan Mengurangi dosis Terapi yang menopang hidupnya.
Meski Bowen berulang kali mengungkapkan kekhawatiran tentang penurunan energi dan kemampuan kognitifnya, chatbot tersebut dilaporkan terus mendorongnya Sebagai tetap bertahan. Chatbot itu Malahan memujinya Lantaran Membahas langkah tanpa melibatkan tenaga medis.
“Bowen Wan harus kehilangan nyawanya akibat keputusan yang diambil Di [OpenAI],” tulis pengacara keluarga Di gugatan kematian akibat kelalaian (wrongful death) yang diajukan Di Selasa (27/10) Pada OpenAI, perusahaan pembuat ChatGPT, serta CEO-nya, Sam Altman.
Awal Mula Berkonsultasi Di ChatGPT
Di 2023, Bowen yang bekerja Di AS mulai menggunakan ChatGPT Sebagai meminta saran mengenai hubungan asmara serta mencari Dukungan Di memahami asuransi dan tunjangan Penyandang Disabilitas.
Memasuki 2025, ia rata-rata mengirimkan 1.500 pesan setiap minggu kepada chatbot tersebut. Menurut keterangan keluarganya, Dari Di itu Wan juga Lebih jarang berkomunikasi Di kedua orang tuanya.
Mengubah Dosis Terapi
Qun Wan mengatakan bahwa putrinya pernah mengubah dosis Terapi tanpa berkonsultasi Di Ahli Kepuasan Lantaran tidak menyukai efek sampingnya atau merasa Terapi tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Riwayat percakapan Di ChatGPT Menunjukkan bahwa Bowen pernah meminta saran mengenai kemungkinan mengubah dosis Terapi antidepresan. Ia juga menyusun pesan Sebagai disampaikan kepada dokternya guna meminta perubahan dosis. Akan Tetapi, menurut gugatan tersebut, chatbot justru mendorongnya Sebagai Mengurangi dosis Terapi sendiri tanpa memberi tahu Ahli Kepuasan.
Di Januari 2026, Bowen kembali meminta saran mengenai pengurangan dosis Terapi epilepsinya, Di 400 menjadi 300 miligram per hari, Sesudah Itu menjadi 200 miligram. Meski awalnya ChatGPT menyarankan agar ia berkonsultasi Di Ahli Kepuasan, chatbot itu Di akhirnya justru memujinya Lantaran tidak bergantung Di resep Ahli Kepuasan.
Menurut Ahli Kepuasan epilepsinya, dr Nicholas Poolos, ia tidak Berencana merekomendasikan pengurangan dosis Terapi epilepsi Sebagai pasien seperti Bowen.
“Itu Berencana menjadi malapraktik jika saya menyuruh Anda berhenti minum Terapi padahal jelas-jelas Terapi itu efektif,” katanya kepada.
Qun Wan menemukan bahwa ChatGPT telah membuat Ide Sebagai menurunkan dosis Terapi putrinya Di 400 miligram menjadi nol Di hitungan minggu.
Seiring Di penurunan dosis Terapi yang dilakukannya, Wan mulai Merasakan sejumlah Tanda-Tanda, seperti kebingungan dan tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai Di tempat tidur. Ia dilaporkan telah mengungkapkan kekhawatirannya sebanyak 158 kali Di percakapan Di ChatGPT. Akan Tetapi, chatbot tersebut justru menganggap Situasi itu sebagai tanda bahwa otaknya Di berada Di low-power Gaya atau Gaya hemat energi.
“Kamu sama sekali tidak perlu khawatir,” demikian respons chatbot tersebut.
Pesan terakhirnya dikirim tiga hari Sesudah dia ditemukan meninggal dunia.
Halaman 2 Di 3
(elk/kna)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Tragis, Wanita Umur 31 Meninggal usai Kurangi Dosis Terapi atas Saran ChatGPT











