loading…
Ridwan al-Makassary, Dosen Ke Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
SERATUS tiga hari Pertempuran Di Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengubah banyak hal, termasuk cara pandang. Yang paling Menarik Perhatian dibicarakan bukanlah tentang berapa jumlah rudal yang telah ditembakkan, berapa kapal tanker yang sudah diblokade Ke Selat Hormuz, atau berapa kali ancaman pemusnahan yang telah diumbar Di podium-podium kekuasaan. Pada ini, yang paling penting dicermati justru adalah perubahan cara Iran memandang dirinya sendiri.
Ke awal Pertempuran berkecamuk, banyak pengamat mempercayai bahwa Iran hanya Melakukanupaya Untuk bertahan hidup Di gempuran militer terkuat Ke dunia. Di logika konflik asimetris, bertahan saja sudah Disorot sebagai Mengalahkan. Bangsa yang tidak runtuh, tidak menyerah, dan tidak kehilangan rezimnya Setelahnya dekapitasi (tumbangnya pimpinan tertinggi) Disorot berhasil Berhasil melawan kekuatan yang lebih besar. Sebab Berhasil secara militer Di AS adalah tidak Bisa Jadi.
Akan Tetapi, memasuki hari Di-103, narasi itu tampaknya telah bergeser. Iran kini tidak lagi berbicara sekadar tentang strategi bertahan. Justru, Teheran mulai berbicara tentang masa Di kawasan. Perubahan ini terlihat jelas Di Dialog Antar Negara yang Lagi berlangsung Bersama pemerintahan Donald Trump. Ironisnya, Pemimpin Negara Trump yang Ke 2018 menghancurkan perjanjian nuklir warisan Barack Obama kini tampak Melakukanupaya memperoleh kesepakatan yang substansinya tidak jauh berbeda Bersama perjanjian yang dulu ia kecam habis-habisan tersebut.
Ke sinilah paradoks sejarah bekerja. Pertempuran yang dimaksudkan Untuk memaksa Iran tunduk dan menyerah justru menghasilkan ruang tawar yang lebih luas Untuk Teheran. Ultimatum lima belas Skor yang dikirim Washington Ke awal konflik perlahan kehilangan taringnya. Langkah rudal balistik yang Sebelumnya Itu menjadi syarat utama nyaris menghilang Di Tatakan perundingan.
Hubungan Iran Bersama kelompok-kelompok sekutunya atau poros perlawanan Ke Lebanon, Irak, dan Yaman tidak lagi menjadi fokus utama. Justru, pembahasan Langkah nuklir harus didahului Bersama Permasalahan pembukaan Selat Hormuz dan pelonggaran tekanan ekonomi.
Yaitu, medan Pertempuran telah mengubah posisi tawar. Di bertahun-tahun, Barat membayangkan bahwa Pembatasan ekonomi dan tekanan militer Akansegera memaksa Iran Merasakan syarat-syarat yang ditentukan Washington. Akan Tetapi, Pertempuran ini memperlihatkan kenyataan yang lebih rumit. Iran berhasil memanfaatkan geografi sebagai senjata politik. Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah urat nadi ekonomi Internasional.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Di Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?











