loading…
Faozan Amar, Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Usaha UHAMKA dan Direktur Al Wasath Institute. Foto/Istimewa
Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Usaha UHAMKA dan Direktur Al Wasath Institute
Topik Kesejaganan guru kembali mengemuka Hingga ruang publik. Perbincangan warganet mengenai gaji pegawai Langkah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai lebih tinggi dibandingkan honor guru non-ASN memicu polemik luas.
Diskursus ini Malahan sempat menjadi topik hangat Hingga media sosial X Di 19 Januari 2026, seiring beredarnya perbandingan Dana MBG tahun 2026 sebesar Rp335 triliun yang secara hipotetis dinilai cukup Sebagai menggaji jutaan guru honorer.
Narasi tersebut memunculkan kesan seolah pemerintah lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan “highlight” ketimbang Penanaman Modal Di Mutu sumber daya manusia.
Padahal, Hingga balik hiruk-pikuk perdebatan publik, pemerintah sebenarnya telah menjalankan Keputusan afirmatif Untuk guru, salah satunya Lewat Langkah Tambahan Penghasilan (Tamsil) Untuk Guru Non-ASN yang mulai Digunakan Dari 2025 Dari Kementerian Pembelajaran Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen, 2025).
Langkah Tamsil ditujukan Untuk guru honorer yang belum bersertifikasi, baik Hingga sekolah negeri maupun swasta. Pemberian tunai ini rata-rata sebesar Rp300 ribu per bulan dan dapat dicairkan secara bertahap atau rapel.
Sasaran penerimanya adalah guru yang terdaftar Untuk Data Terpadu Sosial Ekonomi serta tidak Memperoleh Pemberian sosial lain. Meski secara nominal terlihat terbatas, Tamsil dirancang sebagai bantalan ekonomi yang diharapkan mampu menjaga Ketahanan profesi guru Hingga Di tekanan biaya hidup yang Menimbulkan Kekhawatiran.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Stimulus Sunyi Untuk Otak dan Ekonomi Bangsa











